Review Novel: Pencarian Jati Diri Muslimah dalam Novel My Avilla Karya Ifa Avianty
Identitas Novel
Judul buku : My AvillaPenulis : Ifa AviantyISBN : 978-602-8277-49-5Penerbit : Indiva Media KreasiKetebalan : 184 halaman
Blurb
Fakta Menarik Tentang Novel My Avilla
Topik Cerita yang Menarik
Well, saya bukan pecinta genre
pencarian jati diri akan Tuhannya, tapi novel ini benar-benar membuatku merasa
tertampar. Sebagai seorang yang muslimah dari kecil, saya hanya menjalankan
kewajibanku tanpa tahu alasannya. Namun, sosok Fajar malah mempertanyakan
semuanya. Mengapa Tuhan itu tidak terlihat? Mengapa orang yang beriman semakin
banyak cobaan? Mengapa orang harus ke Baitullah padahal Tuhan itu selalu ada
bersama umatnya?
Uniknya, pertanyaan-pertanyaan
itu terjawab oleh seorang muallaf muslim bernama Margriet. Meskipun lahir dan
tumbuh di lingkungan nonmuslim, pengetahuan perempuan itu akan islam perlu
diacungi jempol. Dia memutuskan berhijab pada usia sekolah di tengah
keluarganya yang Katolik. Benar-benar ujian yang tidak mudah, kan?
Bagi seorang yang muslim, saya
menjadi tersadarkan tentang pentingnya pengetahuan tentang islam. Hal ini
menjadikan saya menjadi pribadi yang lebih taat dan istiqomah. Banyak ilmu baru
tentang islam yang saya dapatkan. Nah, menarik bukan?
Tuhan begitu dekat, Joe. Dia ada di dalam detak jantung kita. Kalaupun kaum muslim pergi ke Baitullah dan umat Katolik pergi ke Lourdes, itu adalah satu upaya untuk menginspirasikan hidup kita dari nilai-nilai spiritual dan historis yang terkandung di dalamnya. Bukan berarti sejatinya rumah Tuhan ada di Ka’bah, dan bermakna Tuhan ada di situ. Tuhan ada di hati dan aliran darah hamba-hamba-Nya yang mencari (Avianty. 2012: 148)
Baca juga Love in the Rainy Days, Lika Liku Kehidupan Konglomerat
Kental Akan Nilai Sosial Budaya
Tampaknya betul jika banyak ahli
mengatakan bahwa novel menjadi representasi dari dunia yang sebenarnya. Bayangkan,
betapa banyak masyarakat kita yang berada di lingkungan multiagama di
keluarganya. Hal inilah yang terjadi pada keluarga Margriet dan Fajar dengan
situasi yang mirip.
Margriet lahir dan tumbuh di
lingkungan Katolik. Namun, dia mulai tertarik mendalami islam dan memutuskan
menjadi seorang muallaf. Meskipun begitu, pengetahuannya tentang islam sangat
luas. Hal ini membuatnya semakin kagum terhadap ajaran barunya itu. Sementara itu,
Fajar lahir dari keluarga multiagama. Papanya seorang muslim dan ibunya adalah
Katolik. Meskipun begitu, keluarganya menjunjung toleransi beragama. Tumbuh di
lingkungan dua agama, membuatnya mempertanyakan makna Tuhan seumur hidupnya. Hal
inilah yang mengantarkannya bertemu dengan Margriet dan pencarian jati dirinya hingga ke Roma.
Selain tentang pencarian jati
diri, novel ini menggambarkan peran perempuan dalam keluarga, masyarakat dan
ketegangan antara nilai tradisional maupun nilai modern. Tokoh perempuan harus
menghadapi konflik antara menjalani kehidupan modern yang penuh tantangan
dengan tetap menjalankan kewajibannya di keluarga. Hal ini banyak kita temukan
di masyarakat. Perempuan dituntut untuk tetap berkontribusi di luar rumah (misalnya
bekerja), namun memiliki kewajiban penuh di rumah (mengurus rumah, anak, dan
memasak).
Baca Juga Simply Love, Wanita Karier vs Ibu Rumah Tangga
Toleransi Beragama yang Kental
Novel ini mengajarkan bagaimana
kita harus saling menghormati terhadap banyaknya perbedaan, terutama di
lingkungan keluarga dan masyarakat. Awalnya keluarga Margriet keberatan dengan
hijrahnya putri sulung mereka, namun lambat laun, perbedaan itu tidak menjadi
halangan untuk saling mengasihi. Hal inilah yang perlu kita tiru untuk
meminimalisir konflik yang tidak perlu. Berbeda-beda tetapi satu jua, betul
bukan?
Isu-Isu Perempuan yang Ditonjolkan
Meskipun mengambil sudut pandang
banyak tokoh, sudut pandang tokoh perempuan mendominasi dalam novel ini.
Margriet dan Trudy, kakak-beradik yang memiliki permasalahan masing-masing, berjuang
dengan takdirnya masing-masing. Keduanya sama-sama cantik dengan kemampuan di
bidang berbeda. Meskipun begitu, keduanya saling mengirikan satu sama
lain. Trudy yang iri kepada kakaknya karena kepintaran akademiknya, sedangkan
Margriet yang iri kepada Trudy karena gampang berbaur dengan orang lain.
Baca juga Long Lasting and Love, Perjuang Garis Biru
Dari kisah mereka, saya bisa
mengambil kesimpulan bahwa hidup memang untuk disyukuri—bukan untuk dibanding-bandingkan.
Setiap orang memiliki porsi kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hal ini akan
menjadikan hidup kita lebih tenang dan damai.
Di luar konflik kakak-beradik
itu, saya menyadari bahwa kedua tokoh sangat inspiratif, terutama Margriet
sebagai tokoh utama. Meskipun dia perempuan, dia berusaha untuk selalu belajar
dan memperbaiki diri. Dia menjadi dosen muda yang inspiratif. Tak hanya
mengajar, dia kerap menjadi pembicara sejak sekolah menengah. Margriet membuktikan
bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih impian mereka. Meskipun
begitu, Margriet tetap memperlihatkan kefeminimannya dalam berpenampilan dan
bertutur kata.
Menarik, bukan? Buat kamu yang sudah pernah baca bukunya, silakan sharing kisahmu di kolom komentar ya! Happy reading!
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar