Plot Twist, Emosi, dan Nostalgia: Mengupas Tuntas Drama Life On Mars
Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya kembali ke masa lalu untuk alasan yang tidak diketahui?
Nah, itulah yang menjadi konflik utama drama Life On Mars ini. Kamu akan diajak mengikuti kisah hidup seorang detektif di tahun 2018 yang terlempar ke tahun 1988. Dia dan tim barunya—di masa itu—harus berusaha memecahkan kasus pembunuhan berantai tanpa teknologi yang canggih. Drama ini bukan sekadar drama misteri, tapi juga perjalanan emosional yang memadukan ketegangan, tawa, dan air mata. Adaptasi dari serial Inggris tahun 2008 ini berhasil memikat penonton lewat akting memukau, plottwist tak terduga, dan nuansa retro yang terasa autentik.
Identitas Drama
Sinopsis
Fakta Menarik Drama Life On Mars
Adaptasi dari Serial Inggris dengan Judul yang Sama
Life on Mars pernah dibuat serial Inggris pada
tahun 2008 silam. Meskipun begitu, drama ini dikemas dengan cerita yang apik
dan mendapatkan banyak apresiasi dari penonton. Akting para aktor yang memukau
kian membuat drama ini banyak pecintanya. Kamu pasti tidak akan bosan
menontonnya!
Banyak Plotwist yang Bikin Penasaran
Mungkin hal ini tidak mengejutkan lagi bagi
pecinta misteri seperti ini ya! Apalagi ada unsur kasus pembunuhan yang sudah
menjadi kasus beku—pelaku tidak terungkap dan kasus ditutup. Berbagai plotwist
pun mengiringi setiap kasus-kasus yang mulai terbuka. Momen yang menegangkan
akan membuatmu senam jantung dan merasakan ketakutan yang tokoh alami.
(hati-hati paragraf selanjutnya mengandung spoiler, bisa skip!)
Kamu pun akan dibuat tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan. Kamu akan tahu alasan Tae Joo kembali ke masa lalu yang berhubungan dengan masa lalu ayahnya. Dia akan menemukan fakta bahwa pembunuhan berantai itu berhubungan dengan organisasi pemerintahan—pusat kesejahteraan masyarakat. Kamu akan menganga tak percaya saat tersangka—yang dikira sudah tewas—ternyata hidup kembali. Pokoknya, plotwistnya banyak dan mengundang rasa penasaran.
Kasih Sayang Orang Tua Tak Berbatas
Ada momen di mana saya terharu melihat hubungan orang tua-anak yang menyentuh (spoiler!). Dalam kasus tersebut, sang ibu mengakui pembunuhan karena mengira bahwa itu ulah putrinya. Tak hanya itu, ayah Tae Joo yang digambarkan ‘jahat’ tetap menjadi ayah terbaik bagi putranya. Jangan lupakan ibu Tae Joo yang mengasihi anak laki-lakinya hingga rambutnya memutih.
Namun, kasih sayang orang tua tidak selalu sebanding dengan balasan yang didapat. Beberapa anak bersikap tidak sopan—bahkan tega meracuni orang tua kandungnya demi uang asuransi—benar-benar tak tahu balas budi!
Bromance dan Romantis yang Pas
Siapa yang tidak kenal Jung Kyung Ho yang popular berkat drama medis berjudul Hospital Playlist? Kekasih Soyoung SNSD ini memang terkenal akan kepiawaiannya dalam berakting. Dalam drama Life On Mars ini, dia dipasangkan dengan Park Sun Woong dan Go Ah Sung.
Meskipun tak banyak skinship yang terjadi antara Han Tae Joo (Jung Kyung Ho) dan Yoon Na Young (Go Ah Sung), penonton dapat melihat hubungan antara keduanya secara romantis. Cara Tae Jo memanggil ‘Nona Yoon’ yang bikin senyam-senyum, cara Tae Jo memperlakukan gadis itu dengan sopan, cara keduanya bertatapan malu-malu, benar-benar bikin ikutan baper.
Tak hanya itu, hubungan bromance antara Ketua Kang (Park Sun Woong) dan Kapten Han Tae Joo tak kalah menyentuh. Meskipun diawali dengan pertengkaran anjing dan kucing, rasa sayang keduanya kian tumbuh dan diuji. Uniknya, mereka dapat melewati ujian-ujian tersebut dan hubungan persaudaraan mereka kian erat.
Porsi Setiap Tokoh yang Sesuai
Drama ini berfokus pada tim Kepolisian Seobu
Insung tahun 1988 yang berjumlah 5 orang. Tim tersebut dipimpin oleh Ketua Kang
yang terlihat santai dan pemarah, namun berhati malaikat dan selalu takut
dengan istrinya. Ada Han Tae Joo yang sulit percaya dengan orang lain dan penuh
ambisi. Ada si cantik Yoon Na Young yang ternyata multitalent dan pemberani.
Ada Sersan Lee Yong Gi yang penakut dan sang junior Jo
Nam Sik.
Semua peran dalam tokoh ini memiliki keunikan
masing-masing. Mereka memiliki porsi yang sesuai. Ekspresi dan Chemistri mereka
patut diacungi jempol. Penonton seakan terseret dalam suasana yang terjadi
dalam drama.
Lagi-lagi, saya melihat kualitas akting Jung Kyung Ho sebagai laki-laki dingin—sangat berbeda dengan citra dirinya yang sebenarnya—lucu, banyak tertawa, dan friendly. Meskipun begitu, dia dapat menggambarkan sosok Kapten yang luar biasa.
Menyelesaikan Kasus dengan Fasilitas Terbatas
Sebagai penikmat genre seperti ini, saya pun
tak asing dengan CCTV, tes DNA, dan kecanggihan database yang ditampilkan
polisi Korea. Namun, kasus-kasus dalam drama ini tetap terselesaikan dengan
baik—meskipun tanpa kecanggihan tersebut. Menurut saya pribadi, hal ini menjadi
keunikan tersendiri, misalnya mengumpulkan para ketua RT untuk dimintai
keterangan mencari tersangka. Kreatif sekali pokoknya!
Terbiasa dengan teknologi-teknologi hebat
dalam mengangkat kasus kejahatan, Han Tae Joo harus beradaptasi dengan
fasilitas yang terbatas saat terlempar ke masa lalu. Meskipun menurut saya
menjadi keunikan tersendiri, saya menyadari bahwa teknologi-teknologi tersebut
sangat membantu mengungkap kasus kejahatan. Bayangkan, berapa nyawa yang bisa
diselamatkan dengan bantuan teknologi-teknologi tersebut? Luar biasa!
Sosok Polisi yang Kita Harapkan
Ah, membahas tentang polisi di Konoha tentu
jauh berbeda ya readers! Saya pun sebenarnya tidak terlalu berharap
banyak. Namun, drama ini menjadi gambaran polisi yang diimpikan masyarakat.
Mereka yang bertarung demi menyelamatkan nyawa orang lain. Mereka yang
siang-malam mengejar penjahat—tanpa peduli nyawa sendiri. Mereka yang merelakan
kehidupan pribadi demi melindungi saksi—tanpa bayaran sama sekali.
Bandingkan saja dengan gambaran polisi yang
kita kenal—suka mempersulit masyarakat, pungutan liar, korupsi, penyalahgunaan
wewenang, tebang pilih kasus, dll. Tak jarang, kita dimintai uang berjuta-juta
untuk kehilangan yang dihadapi. Belum lagi, kasus-kasus yang tidak ditangani
karena barang yang dianggap tidak berharga. Kapan ya polisi kita sesigap
polisi-polisi di luar sana?
Kisah Dua Waktu yang Berbeda
Kembali ke masa lalu 30 tahun sebelumnya?
Yap. Han Tae Joo yang tinggal di 2018 kembali
ke tahun 1988. Dia bertemu ayahnya yang telah lama tewas dan banyak
plotwist-plotwist menarik yang mengiringinya.
Meskipun berlatar dua tahun yang rentangnya
cukup jauh, kita tidak akan kesulitan membedakannya karena adanya perbedaan
dari segi warnanya. Selain itu, suasananya pun tidak main-main—kita akan dibuat
takjub karena riset yang dilakukan untuk drama ini. Kita akan melihat latihan
militer, mobil jadul, ponsel pun tanpa internet, penggunaan HT untuk
berkomunikasi, tidak adanya CCTV, air panas dengan cara manual—kayu dibakar, dan tidak
ada laptop atau sejenisnya.
Tak hanya dari fasilitas, kita akan melihat
budaya lama yang mengintimidasi perempuan. Opsir Yoon yang berbakat, dia
tersisih karena perempuan. Padahal dia memiliki banyak bakat—bahkan mahir bela
diri saat menangkap penjahat. Jika diberi ruang yang bagus, perempuan itu
memiliki kesempatan yang besar untuk mengembangkan diri. Namun, apalah daya.
Sebagai perempuan zaman dulu, dia hanya ditugaskan untuk urusan dapur—membuat
kopi—dan urusan receh lainnya.
Pro-Kontra Ending yang Menggantung
Well, saya tidak
terkejut lagi dengan akhir yang menggantung ini. Hal inilah yang menjadi alasan
saya menunda menonton drama lama ini—saya pecinta happy ending. Namun,
sebelum membahas akhir cerita, saya ingin spill alurnya dulu secara
singkat ya! Kalau ga suka spoiler, bisa langsung skip saja!
Han Tae Joo terluka karena mengejar penjahat
di tahun 2018 dan koma berbulan-bulan. Anehnya, dia malah terlempar ke masa
lalu, yaitu 1988. Dengan banyak pertanyaan dalam benaknya, dia bertemu dengan
teman-teman baru dan berusaha menyelesaikan berbagai kasus dengan baik.
Dia pun berhasil kembali ke masa depan. Namun,
dia malah sedih dan menjadi orang yang berbeda. Dia menyadari bahwa ada
penyesalan yang tidak bisa diungkapkan ke orang lain. Setelah berpamitan dengan
ibunya, dia memutuskan untuk kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan
teman-temannya.
Dari sudut pandangku sendiri, aku memahami
perasaan Tae Joo untuk kembali ke masa lalu. Dia sadar, penyesalan itu
benar-benar membuatnya kehilangan makna hidup. Dia bahkan tidak merasa sakit
saat tangannya terluka. Jadi, dia merasa bahwa masa sekarang itu hanya mimpi
belaka. Namun, ada satu hal yang membuatku bertanya-tanya, bagaimana keadaan Tae
Joo di masa depan? Apakah koma? Meninggal? Lalu, apakah dia juga akan
menghilang jika Tae Joo di masa depan meninggal?
Di luar rasa penasaran tersebut, saat melihat
tawa dan senyum Tae Joo setelah berkumpul dengan timnya, saya semakin yakin
bahwa dia memilih keputusan yang tepat untuk kembali. Intinya, meskipun
pertanyaan-pertanyaan yang kuutarakan belum terjawab hingga akhir, saya sangat
menikmati alur yang ditawarkan oleh drama ini. Satu hal lagi, senyum Jung Kyung
Ho—sebagai pemeran utama—sangat manis. Sangat disayangkan bahwa dia sangat
jarang memamerkannya di drama ini.
Nah gimana readers,
tertarik untuk menonton? Life On Mars menjadi salah satu rekomendasi drama Korea
untuk kamu pecinta misteri nih. Drama ini meninggalkan kesan mendalam—bukan
hanya karena misterinya yang rapi, tapi juga karena emosi yang dibangunnya. Drama
ini menyuguhkan hubungan tim yang hangat, romansa sederhana yang manis, hingga
potret kasih sayang orang tua yang menyentuh—semua diramu dalam cerita yang
memacu adrenalin. Ending-nya memang meninggalkan tanda tanya, tapi
justru di situlah letak pesonanya. Setelah menontonnya, kamu mungkin akan
bertanya-tanya: jika diberi kesempatan, apakah kamu juga akan kembali ke masa
lalu untuk memperbaiki sesuatu yang tak sempat kamu selesaikan?







Komentar
Posting Komentar