Review Buku City Lite "Algoritme Rasa" oleh Pradnya Paramitha: Saat Coding dan Seni Jatuh Cinta

Novel ini merupakan Job Series karya Pradnya Paramitha yang berpusat pada dunia programming dan kesenian. Dengan halaman setebal 468, buku ini mampu kutandaskan dalam seminggu. Bercerita tentang seorang gadis yang berkutat di dunia programming bersama timnya yang semuanya laki-laki. Mereka saling membantu dalam menyelesaikan proyek dan meladeni klien yang permintaannya selangit. Selain membahas dunia kerja, novel ini juga menambahkan love-line yang terhubung kembali setelah bertahun-tahun lamanya. Ada percintaan, keluarga, dan persahabatan antara tokohnya. Masa lalu yang perlahan mulai bermunculan kian menambah daya tarik novel fiction ini.


Rekomendasi Novel Romcom

Identitas Buku 

Cover: soft cover
Tebal: 468 halaman
ISBN: 9786230008948
Berat: 0.35 kg
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun: 2019

Sinopsis Buku

Novel ini menceritakan tentang Junia Padma, seorang back-end developer yang suka gosthing sana sini dan menebar harapan palsu. Suatu hari, ia dimintai tolong oleh mantan pacar sahabatnya untuk menyelamatkan Sandra dari tunangannya. Namun, alih-alih fokus dengan misi, keduanya justru terlibat dalam hubungan rumit dan terjebak dalam perasaan cinta yang sulit. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Junia Padma adalah seorang senior back-end developer yang hobi flirting kanan-kiri dan selalu kabur jika ada pria yang tampak mulai serius dengannya. Suatu hari, Bhisma, mantan pacar sahabatnya, meminta bantuan Juni untuk ‘menyelamatkan’ Sandra dari tunangannya. Juni setuju karena dia juga tidak suka dengan tunangan Sandra yang sekarang. Jadilah Junia dan Bhisma mencanangkan misi Sandra-HarsyaPutus. Seiring berjalannya waktu, Juni dan Bhisma semakin dekat. Untuk Junia, jatuh cinta kepada Bhisma lebih seperti syntax error, atau mungkin fatal error, atau mungkin malah logical error. Bagaimana kalau ini adalah error karena efek samping misi yang luput dari antisipasinya? Di tengah kebimbangan hatinya, Juni tak sengaja mendengar pembicaraan Bhisma dan Sandra yang membuatnya tercengang…. Dan murka. (Sumber: Gramedia)

Fakta Menarik tentang Novel

Mengetahui tentang dunia pemograman dan kesenian 

Fakta menarik pertama dari novel ini adalah penggambaran tokohnya yang detail dan menarik. June, seorang gadis programming perusahaan besar digambarkan dengan sempurna. Penulis tampaknya sangat memahami dunia programming mulai dari fitur-fitur E-commerce, website, tugas programmer, sistem kerja programming, dll. Begitu pula dengan tokoh Bhisma yang digambarkan seorang kurator sekaligus pelukis. Namun tidak seperti kebanyakan seniman yang lusuh dan berantakan, dia tampil dengan rapi dan elegan. Dalam novel ini Bhisma sedikit-banyak menjelaskan tentang dunia kesenian—gajinya yang tidak tetap, sulitnya bekerja di dunia ini, dan beberapa pandagannya tentang lukisan yang tertera di pameran. Kedua tokoh berbeda profesi ini mampu digambarkan dengan baik melalui percakapan, perbuatan, dan pikiran tokohnya. Meskipun begitu, seorang yang awam masih bisa memahami garis besar dari alur utama novel job series ini. 

“E-commerce dan online shop ini lumayan sulit. Banyak fitur yang harus di-develop. Terutama kita harus pastikan soal keamanannya, kan? Akan sangat terburu-buru kalau kita cuma dikasih waktu dua bulan.” (8)

Secara sederhana, ada dua jenis programmer komputer. Back-end developer dan front-end-develover.  Keduanya memiliki tugas yang berbeda. Seorang front-end develover bertugas mengurus tampilan website. Ibaratnya, mereka adalah penerima tamu di acara pernikahan yang harus memasang wajah ramah karena berhadapan dengan users secara langsung. Sementara tugas back-end developer adalah memastikan sistem website itu bisa berjalan. Pekerjaannya selalu di belakang layar dan berhubungan dengan fungsi dan data. Misalnya saat login di Instagram. Waktu seseorang meng-klik login itu ada proses transfer jutaan data dari sistem untuk ditampilkan. Nah, di sinilah tugas mereka untuk memastikan saat seseorang login dia masuk ke akunnya sendiri. Selain itu, mereka juga bertugas sebagai satpam yang menjaga sistem dari serangan hacker. (20-21)

“Dadaisme itu teori soal..” Bhisma berhenti sebentar. “Ddaisme itu antiart. Atau semacam itu. Gerakan perlawanan terhadap konsep seni yang dianggap sebagai milik golongan kelas atas [...] Dia bercerita tentang keputusasaan. Momen saat manusia ada di tengah-tengah, bimbang untuk berhenti atau tetap terbang....” (26)

Diskriminasi di Tempat kerja

Diskriminasi menjadi permasalahan yang dialami banyak orang, termasuk di dunia kerja. Dalam novel ini, diskriminasi dialami oleh tokoh Juni yang berkutat di dunia programming—Tim IT atau programming identik dengan cowok kaku, cuek, kutu buku, introvert, dan berantakan, jadi Juni sebagai satu-satunya perempuan di tim sering merasa diremehkan—terutama oleh klien mereka yang baru mengetahui bahwa senior programming-nya seorang cewek. Namun, Juni berhasil membuktikan diri dengan pekerjaannya yang memuaskan para kolega.

Dua Tokoh yang Menginspirasi

Juni sebagai cewek berhasil mematahkan stereotip bahwa anak IT itu hanya untuk laki-laki. Kecintaannya dengan dunia komputer membuatnya menjadi pemogram yang andal. Dia pun berusaha untuk menjadi cewek yang multitalent—bisa make up meskipun selalu berkutat di komputer dan hidup mandiri.

Selain Juni, tokoh Bhisma juga menginspirasi. Bagaimana dia menyikapi permasalahan yang bertubi-tubi. Bagaimana dia fokus pada diri sendiri—tidak peduli perkataan orang lain yang menyatakan bahwa pergi ke psikolog dan psikiater itu gila. Bagaimana dia mau mencoba berbagai pekerjaan meskipun gagal berkali-kali. Bagaimana dia berusaha mencari peluang untuk bisa sukses—dan memberikan pekerjaan bagi pengrajin-pengrajin yang terabaikan. Bagaimana dia mencoba menyelamatkan anak kucing yang terjebak di bawah mobilnya. Bagaimana caranya dia yang tidak malu berbicara dengan satpam di lobi. Bagaimana dia peduli dengan orang lain—termasuk ibunya yang memiliki keterbatasan. Di tengah banyaknya permasalahan yang dihadapi, dia selalu santai dan cukup profesional dalam pekerjaan. Momen-momen bersama June perlahan memberinya pandangan baru dan mencoba memamerkan lukisannya lagi.

Pentingnya Teliti dalam Memilih Pasangan

Memilih pasangan itu susah-susah gampang ya ternyata—tidak hanya dari kekayaan dan keluarganya, namun sebagai perempuan kita perlu menilai bagaimana dia bersikap dan tidak menutup mata akan keburukannya. Secara finansial, Harsha memang menjadi pasangan ideal karena memiliki keluarga kaya raya, namun secara prilaku, dia sangat minus. Dia manja dan anak mami yang suka jelajatan saat melihat perempuan bening—padahal sudah memiliki Sandra sebagai kekasihnya yang fisiknya sempurna dan idaman banyak pria. Berbanding terbalik dengan Bhisma yang—menurut Juni—lebih worth it mendapat predikat pasangan ideal.

Cinta itu buta! Tampaknya kita akan kesulitan membedakan warning dalam suatu hubungan jika sudah mengutamakan perasaan. Seperti yang dialami oleh Sandra, berbagai momen sudah membuktikan betapa buruknya sikap Harsha, namun dia tak peduli (Hati-hati bagian ini mengandung spoiler!). Parahnya, dia malah menyalahkan sahabatnya atas apa yang Harsha lakukan. Hal ini berimbas pada persahabatan mereka yang rusak setelahnya! Sangat di luar dugaan!

Tak Semua Orang Punya Rumah

Rumah menjadi salah satu komponen utama kita untuk menyembuhkan diri. Tempat kita pulang saat sedang tidak baik-baik saja. Tempat kita menyampaikan keluh kesah untuk tetap waras. Tempat kita saling berkomunikasi dan menjadi lebih baik lagi. Tempat kita saling berpelukan dan menguatkan. Tempat di mana kita merasa nyaman menjadi diri sendiri. Namun, tidak semua orang memiliki rumah itu. Adakalanya, rumah menjadi tempat yang mengerikan—tempat kita memupuk rasa trauma dan berdampak pada kehidupan kita. Dan itulah yang dirasakan Juni maupun Bhisma—yang merasa tidak memiliki rumah untuk berkeluh kesah. Bahkan, situasi keluarganya membuat Juni tidak ingin menikah. Saat pacarnya akan melamarnya, dia akan menghilang dan meninggalkan laki-laki itu. Juni yang mulai menyerah akhirnya meminta bantuan psikolog untuk menyelesaikan permasalahannya. Meski awalnya ragu dan takut dianggap gila, perlahan dia mulai menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggu pikirannya.

Penerimaan setiap orang itu berbeda. Kadang apa yang kita anggap sebagai bentuk perhatian dan rasa sayang justru menyakitkan. Apa yang kita niatkan bercanda ternyata melukai.

Lawakan anak-anak IT Bikin Pusing

Mungkin benar bahwa ada ungkapan anak-anak IT itu sulit dimengerti. Kalau di buku ini Juni berkata bahwa anak IT memiliki bahasa sulit dimengerti pihak luar. Hal inilah memicu sebagian besar dari mereka masih jomlo—karena para cewe ilfeel duluan saat berbicara dengan mereka. Mereka sering menggunakan istilah-istilah pemograman yang tidak semua orang paham maknanya. Lucu juga ya mereka! Meskipun begitu, lawakan-lawakan tersebut yang membuat mereka kian akrab di tim tersebut.

Anak-anak IT memiliki beberapa bahasa pemograman yang sering mereka gunakan nih, Readers! Misalnya wording (kata-kata dalam website, brosur, aplikasi dan menjadi tugas content marketing), Slicing (proses pemotongan desain), HTML, CSS, Jquery, Kick-off, mockup, Landing page (halaman website yang dikunjungi user). Tapi tenang saja, beberapa istilah memiliki kata kunci di bawahnya jadi pembaca ga akan sulit memahaminya.

Menyelipkan Proses Marketing Perusahaan

Sebagai cerita ringan tentang dunia kantoran, novel ini memberi banyak pengetahuan tentang dunia marketing—mulai dari mengelola website perusahaan hingga bagaimana cara memudahkan pengunjung web menghubungi penjual. Ternyata, mendirikan bisnis itu tidak mudah loh readers! Step-nya sangat panjang dan berliku! Bagi calon pengusaha seperti kalian, bisa baca-baca buku referensi dulu ya!

Realita Budak Korporat

Novel ini juga menggambarkan bagaimana dunia kerja di perusahaan besar atau istilahnya Budak Korporat—kerja dari pagi sampai pagi lagi, tak jarang lembur, tidak ada hari libur, work-life balance yang berantakan, dicaci maki klien, dan mengutamakan efisiensi dalam pekerjaankreativitas tidak menjadi hal yang utama. Meskipun begitu, ternyata perusahaan tersebut sangat memahami penderitaan pekerjanyamereka menyediakan beragam fasilitas yang seru banget, seperti game centre untuk melepas jenuh, ruang istirahat, pantry untuk makan-minum, gaji yang ga main-main, aneka cemilan dan minuman yang selalu tersedia, kursi pijat, dan fasilitas yang mendukung lainnya. Hebatnya, fasilitas-fasilitas ini bisa dinikmati secara gratis! Wow, aku pribadi sih sangat ingin bekerja di perusahaan seperti itu.

Sama seperti Marga, Juni juga mengagung-agungkan scratch. Konsep yang lahir dari pikirannya sendiri, dan dibuat dari nol. Tapi seiring berjalannya waktu, Juni mengerti bahwa dunia kerja tidak seperti itu. Dan programming tidak sekaku itu juga. Programmer bukan soal keren-kerenan, tapi soal efektivitas, semakin efektif bekerja, semakin banyak pula project yang bisa dikerjakan. (56)

Jangankan liburan. Ada masa di mana Juni lupa definisi akhir pekan. Salah satunya adalah saat ini [..] sejak jumat malam, Juni belum kembali ke kosan. Bolak-balik ke pantry kantor untuk menambah kopi, dan berusaha mandi bebek sekadarnya di toilet kantor supaya tetap layak disebut manusia. Sudah 48 jam dia terjebak di kantor dan bertemu orang-orang yang sama. Para kutu programming dan budak korporat yang berpenampilan sama lusuhnya. (2)

Membaca Gratis di Ipusnas

Nah, bagaimana, Readers? Tertarik untuk menikmatinya? Eits, tenang aja! Kamu bisa membacanya secara free alias gratis melalui aplikasi Ipusnas loh! Mudah dan murah bukan? Tunggu apa lagi! Happy Reading!

Quotes-Quotes

"Gue cerita soal nyokap gue dan asal-usul gue bukan untuk dikasihani. Gue cuma pingin ngasih tahu kalau seenggaknya lo masih punya orang tua dan keluarga yang lengkap. Dan lo mesti tahu kalau somebody out there, somebody like me, is dying to be you. To have a family." (116)

"Aku mau kamu rutin mencatat emosi paling kuat yang kamu rasakan setiap harinya. Nah, di bagian ini, kamu bisa bertanya pada dirimu sendiri. Misalnya, hari ini kamu merasa senang, cari tahu apa penyebabnya dan tulis di sini. Ini akan berguna untuk kita lebih memahami emosi dalam diri. Kalau sudah lebih paham, mengontrol pun lebih mudah kan? Aku juga mau, setidaknya seminggu sekali kamu ngobrol sama Aldo dan ayahmu. Bisa dicoba melalui chat dulu, lalu tuliskan hasilnya di tabel yang ini? Apa yang kalian obrolkan? Berapa lama kalian ngobrol? Gimana perasaanmu selama ngobrol?" (150)

"Aku akan bilang kalau untuk memulai ini memang harus sedikit dipaksa, tapi pada akhirnya semuanya terserah kamu. Kamu yang tahu kapan kamu siap untuk mengerjakan PR kita hari ini. Ingat kata-kataku tadi ya! Setiap pikiran yang muncul di kepala itu spontanitas. Perlu diintervensi. Layak dikritisi dan layak dievaluasi dulu sebelum dipercaya." (151)

Menjadi programmer kita memiliki kendali yang besar, setidaknya setiap kesalahan bisa diperbaiki dan itu cukup menenangkan.

 


Komentar

Postingan Populer